Selasa, 13 Mei 2014

Pengertian Supply Chain Management beserta penerapannya

Supply Chain Manajement
LATAR BELAKANG
Munculnya SCM dilatar belakangi oleh 2 hal pokok, yaitu:
1.Praktek manajemen logistik tradisional yang bersifat adversarial pada era modern ini sudah tidak relevan lagi, karena tidak dapat menciptakan keunggulan kompetitif
 2.Perubahan lingkungan bisnis yang semakin cepat dengan persaingan yang semakin ketat
Perkembangan lingkungan industri yang dinamis pada era global seperti sekarang ini menjadi pemicu bagi banyak organisasi perusahaan untuk menggali potensi yang dimiliki, serta mengidentifikasi faktor kunci sukses untuk unggul dalam persaingan yang semakin kompetitif.Teknologi yang juga berkembang pesat menjadi sebuah kekuatan untuk diterapkan dalam iklim persaingan.
Usaha-usaha yang dilakukan pada akhirnya diarahkan untuk memberikan produk terbaik kepada konsumen.. Industri manufaktur tidak akan dapat bersaing apabila produk yangd itawarkan murni hanya barang, dan industri jasa juga tidak memiliki daya tarik apabila yang ditawarkan kepada konsumen murni berupa layanan. Keberhasilan perusahaan dalam memberikan produk terbaik kepada konsumen meliputi kombinasi di antara keduanya, yaitu barang dan jasa dalam porsi masing-masing yang ideal menurut perusahaan.
Menyajikan produk dalam arti luas tersebut merupakan tantangan sekaligus peluang bagi sistem produksi operasi yang harus dijalankan perusahaan. Untuk dapat menawarkan produk yangmenarik dengan tingkat harga yang bersaing, setiap perusahaan harus berusaha menekan atau mereduksi seluruh biaya tanpa mengurangi kualitas produk maupun standar yang sudah di tetapkan.
Salah satu upaya untuk mereduksi biaya tersebut adalah melalui optimalisasi distribusi material dari pemasok, aliran material dalam proses produksi sampai dengan distribusi produk ke tangan konsumen. Distribusi yang optimal dalam hal ini dapat dicapai melalui penerapan konsep Supply Chain Management (SCM). SCM sesungguhnya bukan merupakan suatu konsep yang baru. Menurut Jebarus (2001) SCM merupakan pengembangan lebih lanjut dari manajemen distribusi produk untuk memenuhi permintaan konsumen. Konsep ini menekankan pada pola terpadu yang menyangkut proses aliran produk dari supplier, manufaktur,retailer hingga kepada konsumen. Dari sini aktivitas antara supplier hingga konsumen akhir adalah dalam satu kesatuan tanpa sekat pembatas yang besar, sehingga mekanisme informasi antara berbagai elemen tersebut berlangsung secara transparan. SCM merupakan suatu konsep menyangkut pola pendistribusian produk yang mampu menggantikan pola-pola pendistribusian produk secara optimal. Pola baru ini menyangkut aktivitas pendistribusian, jadual produksi, danlogistik


3 macam komponen SCM, yaitu:
§    Rantai Suplai Hulu/Upstream supply chain
Bagian upstream (hulu) supply chain meliputi aktivitas dari suatu perusahaan manufaktur dengan para penyalurannya (yang mana dapat manufaktur, assembler, atau kedua-duanya) dan koneksi mereka kepada pada penyalur mereka (para penyalur second-trier). Hubungan para penyalur dapat diperluas kepada beberapa strata, semua jalan dari asal material (contohnya bijih tambang, pertumbuhan tanaman). Di dalam upstream supply chain, aktivitas yang utama adalah pengadaan.
 §   Manajemen Internal Suplai Rantai/Internal supply chain management
Bagian dari internal supply chain meliputi semua proses pemasukan barang ke gudang yang digunakan dalam mentransformasikan masukan dari para penyalur ke dalam keluaran organisasi itu. Hal ini meluas dari waktu masukan masuk ke dalam organisasi. Di dalam rantai suplai internal, perhatian yang utama adalah manajemen produksi, pabrikasi, dan pengendalian persediaan.
§    Segmen Rantai Suplai Hilir/Downstream supply chain segment
Downstream (arah muara) supply chain meliputi semua aktivitas yang melibatkan pengiriman produk kepada pelanggan akhir. Di dalam downstream supply chain, perhatian diarahkan pada distribusi, pergudangan, transportasi, dan after-sales-service.
  Aktivitas SCM bisa dikelompokan ke tingkat strategi, taktis, dan operasional.
  Strategis
§  Optimalisasi jaringan strategis, termasuk jumlah, lokasi, dan ukuran gudang, pusat distribusi dan fasilitas
§  Rekanan strategis dengan pemasok suplai, distributor, dan pelanggan, membuat jalur komunikasi untuk informasi amat penting dan peningkatan operasional seperti cross docking, pengapalan langsung dan logistik orang ketiga
§  Rancangan produk yang terkoordinasi, jadi produk yang baru ada bisa diintregasikan secara optimal ke rantai suplai,manajemen muatan
§  Keputusan dimana membuat dan apa yang dibuat atau beli
§  Menghubungkan strategi organisasional secara keseluruhan dengan strategi pasokan/suplai
  Taktis
§  Kontrak pengadaan dan keputusan pengeluaran lainnya
§  Pengambilan Keputusan produksi, termasuk pengontrakan, lokasi, dan kualitas dari inventori
§  Pengambilan keputusan inventaris, termasuk jumlah, lokasi, penjadwalan, dan definisi proses perencanaan.
§  Strategi transportasi, termasuk frekuensi, rute, dan pengontrakan
§  Benchmarking atau pencarian jalan terbaik atas semua operasi melawan kompetitor dan implementasi dari cara terbaik diseluruh perusahaan
§  Gaji berdasarkan pencapaian
  Operasional
§  Produksi harian dan perencanaan distribusi, termasuk semua hal di rantai suplai
§  Perencanaan produksi untuk setiap fasilitas manufaktru di rantai suplai (menit ke menit)
§  Perencanaan permintaan dan prediksi, mengkoordinasikan prediksi permintaan dari semua konsumen dan membagi prediksi dengan semua pemasok
§  Perencanaan pengadaan, termasuk inventaris yang ada sekarang dan prediksi permintaan, dalam kolaborasi dengan semua pemasok
§  Operasi inbound, termasuk transportasi dari pemasok dan inventaris yang diterima
§  Operasi produksi, termasuk konsumsi material dan aliran barang jadi (finished goods)
§  Operasi outbound, termasuk semua aktivitas pemenuhan dan transportasi ke pelanggan
§  Pemastian perintah, penghitungan ke semua hal yang berhubungan dengan rantai suplai, termasuk semua pemasok, fasilitas manufaktur, pusat distribusi, dan pelanggan lain
Fungsi Supply Chain Management
    Ada dua fungsi SCM, yaitu
1.SCM secara fisik mengkonversi bahan baku menjadi produk jadi dan menghantarkannya ke pemakai akhir. Fungsi pertama ini berkaitan dengan ongkos-ongkos fisik, yaitu ongkos material, ongkos penyimpanan, ongkos produksi, ongkos transportasi, dan sebagainya.
2.  SCM sebagai mediasi pasar, yakni memastikan bahwa apa yang disuplai oleh rantai  suplai  mencerminkan  aspirasi  pelanggan  atau  pemakai  akhir  tersebut. Fungsi kedua ini berkaitan dengan biaya-biaya survey pasar, perancangan produk, serta biaya-biaya akibat tidak terpenuhinya aspirasi konsumen oleh produk yang disediakan oleh sebuah rantai suplai. Ongkos-ongkos ini bisa berupa ongkos markdown, yakni penurunan harga produk yang tidak laku dijual dengan harga normal, atau ongkos kekurangan supply yang dinamakan dengan stockout cost.
Contoh Kasus pada perusahaan Alfamart
Ekspansi dan efisiensi yang dilakukan PT Sumber Alfaria Trijaya, Tbk. terbukti mampu menopang kinerja perusahaan sepanjang tahun 2009. Dengan strategi ekspansi yang didasari pertumbuhan pesat dengan investasi minimum serta efisiensi di setiap lini bisnisnya, PT Sumber Alfaria Trijaya, Tbk. telah mengakhiri tahun 2009 dengan kinerja yang positif serta memasuki tahun 2010 dengan optimisme. Pandangan positif mengenai hal ini mengemuka dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) Perusahaan hari ini, Senin (07/06/10).
Tahun 2009 menandai pencapaian penting dalam satu dekade Alfamart sejak mulai beroperasi pada tahun 1999. Dalam kurun waktu 10 tahun, Alfamart telah berkembang pesat dari distributor barang-barang konsumsi hingga menjadi yang terdepan dalam hal kenyamanan, harga yang kompetitif, pilihan produk yang lengkap, dan layanan yang ramah. Dengan bentuk gerai komunitas yang beroperasi sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat umum, didukung oleh staf yang berdedikasi, produk yang berkualitas, serta harga yang kompetitif, Perseroan senantiasa berupaya memastikan bahwa Alfamart telah memenuhi kepentingan pelanggan dengan menyediakan barang-barang yang dibutuhkan untuk kehidupan sehari hari. Dari sudut pandang bisnis, posisi puncak dalam Nielsen Store Equity Index menjadi bukti nyata bahwa Alfamart secara sungguh-sungguh telah mempraktikan slogannya yaitu “Belanja Puas, Harga Pas”. Untuk ketiga kalinya berturut-turut (sejak 2007), pada tahun 2009 Alfamart kembali meraih posisi tertinggi di dalam indeks tersebut dengan nilai keseluruhan 3,3.
Di tahap ini merupakan sebuah kebanggan untuk menekankan bahwa Perseroan telah mengukuhkan status baru sebagai aset nasional yang bernilai. Sejak awal berdirinya 10 tahun yang lalu hingga kesuksesannya hari ini, Alfamart telah mencapai semuanya berkat dedikasi dan kerja keras dari seluruh karyawan kami. Strategi ekspansi yang didasari oleh pertumbuhan pesat dengan investasi minimum (dengan memanfaatkan sistem waralaba), perseroan mengiatkan upaya untuk melakukan penetrasi ke pasar-pasar baru yang potensial di luar Jawa. Bali dan Makassar pada khususnya, diperkirakan akan bertumbuh paling pesat mengingat tingginya potensi yang ada di kedua wilayah tersebut. Di tahun 2009, Alfamart membuka dua buah DC baru untuk menambah kapasitas pasar di Malang dan Bandung 2. Selain itu, perseroan juga menyiapkan DC-DC baru di Klaten, Bali, Balaraja, Palembang, dan Makassar. Sepanjang tahun 2009 tercatat jumlah gerai meningkat 11,2 % dari 3.373 gerai pada tahun 2008 menjadi 3.776 gerai. Dari sisi kinerja keuangan, Alfamart membukukan pertumbuhan penjualan bersih sebesar 27,03 % pada tahun 2009 dari Rp 8,3 triliun menjadi Rp 10,55 triliun. Pencapaian tersebut menyebabkan EBITDA meningkat sebesar 26,8 % di tahun 2009 dari Rp 396 miliar pada tahun 2008 menjadi Rp 502 miliar, sama halnya dengan laba bersih yang meningkat sebesar 40,3 % menjadi Rp 186 miliar jika dibandingkan pada posisi yang sama di tahun 2008 yang tercatat sebesar Rp 133 miliar.
Untuk toko-toko waralaba, melanjutkan tren kenaikan yang telah berlangsung sejak kami membuka kesempatan untuk memiliki toko Alfamart pada tahun 2001, Perseroan melebarkan jangkauan hingga mencapai 898 toko, bertumbuh sekitar 39% dari tahun 2008 yang mencatat angka 646. Efisiensi juga berhasil ditingkatkan melalui pemakaian BBM serta didukung oleh pemantauan jadwal pengantaran dan rute secara intensif. Penurunan serupa juga terjadi pada biaya lembur melalui alokasi karyawan antar toko secara fleksibel. Diharapkan, Perseroan dapat terus meningkatkan strategi yang telah ditempuh sehingga pada tahun 2010 Alfamart akan dapat terus berkembang dengan positif baik dari segi bisnis, investasi, serta kontribusinya sebagai sebuah aset nasional.



Minggu, 04 Mei 2014

Pengertian CRM dan implementasinya

-CRM adalah Sebuah strategi bisnis yang berbasis customer,yang berguna sebagai strategi untuk meningkatkan kepuasan pelanggan,sehingga strategi ini digunakan untuk menjaga hubungan antara pelanggan dengan perusahaan

-Berikut beberapa komponen CRM:
1. Strategi
bagaimana perusahaan melakukan advertising ke pelanggan dan mendekati pelanggan
2. Proses bisnis
cara perusahaan untuk memudahkan penjualan ke pelanggan
3. Informasi
bentuk pengambilan informasi tentang pelanggan,produk apa yang sering dicari,bagaimana perilaku pelanggan,dsb
4. Organisasi
bentuk penggunaan bagian perusahaan untuk meningkatkan kepuasaan pelanggan,seperti menggunakan call center untuk menunjang service kepada pelanggan
5. Teknologi
software yang bisa membantu untuk menunjang kegiatan CRM

-Berikut teknologi pendukung CRM:
1.Costumer Database
Tempat menyimpan data yang berasal dari interaksi perusahaan dengan pelanggan,mulai dari request pelanggan,complain pelanggan,survey pelanggan.
2.Costumer Intelligence
proses untuk mengelompokan pelanggan sesuai dengan kebutuhan mereka akan produk perusahaan,pengelompokan ini ditujukan agar apabila perusahaan ingin menawarkan produk,maka produk yang ditawarkan adalah produk yang berhubungan dengan harapan pelanggan
3.Costumer Capacity and Competency Development
sebuah teknologi continous improvement yang berguna untuk meningkatkan kepuasaan dan hubungan pelanggan
4.Operasional CRM
sebuah dukungan database untuk call center atau front office,dukungan ini berupa sebuah record data pelanggan dimana disini ada semua hasil complain pelanggan dan apa saja yang diharapkan oleh pelanggan

-Kegunaan CRM:
1.Dapat mengoptimalkan penjualan perusahaan
2.Dapat menilai respon kostumer terhadap produk dan service perusahaan
3.Bisa dapat membantu dalam pengambilan keputusan
4.Bisa memprediksi hal yang diinginkan dan tidak diinginkan oleh pelanggan

-Kendala penerapan CRM:
1.Pada aplikasi IT,sering terbuangnya fitur IT yang berlebihan sehingga sering adanya fitur yang tidak digunakan atau mati,hal ini hanya membuang uang perusahaan
2.Pelanggan tetap mengeluh dengan produk,sehingga perusahaan bisa merasa sia-sia dalam menerapkan CRM
3.Tidak ada peningkatan efisiensi oleh perusahaan
4.Staf sales dan marketing masih saling menyembunyikan data satu sama lain,sehingga akibat ke-egoisan staff perusahaan,maka efisiensi CRM menjadi berkurang.

Study caseNissan motor indonesia

Masalah Nissan Motor indonesia dalam penanganan pelanggan:
      Harus mengelola 44.000 pelanggan di 42 cabang
      Tidak mempunyai data terintegrasi
      Arus informasi perusahaan tidak akurat
      Proses data lambat

Sehingga dari masalah diatas maka Nissan Motor Indonesia pun menerapakan solusi dan proses kerja CRM berupa:
      Menggunakan HEAT(Helpdesk Expert Automation Tools) untuk menunjang CRM
      Menyiapkan CRO(customer relation officer) di masing-masing cabang untuk menampung opini dan data pelanggan.opini yang tertampung dapat berupa bagaimana kenyamanan showroom,bagaimana kebersihan toilet,keramahan marketing,dsb
      Intensif memberikan layanan sms/email kepada pelanggan (sms promo,ucapan selamat ulang tahun,selamat tahun baru,selamat hari raya,dsb)

Dari solusi yang sudah diterapkan Nissan Motor Indonesia pun mendapatkan keuntungan berupa :
  •       Perusahaan dapat melakukan single view terhadap profil pelanggan,sehingga perusahaan bisa memiliki informasi yang akurat tentang pelangan.

      Pengembangan contact centre dan SMS gateway, sehingga bisa memberikan berbagai layanan tambahan kepada pelanggan yang berupa informasi produk,promo, menampung komplain, dan menindaklanjuti keinginan pelanggan

Sumber-sumber:

binus.ac.id

Senin, 14 April 2014

Penulisan paper tentang penerapan DRP pada PT.Telkom Indonesia

Penerapan Disaster Recovery Plan Pada PT.Telkom Indonesia
Topik-Topik Lanjutan Sistem Informasi










Gwayne – 1501149680
06 PMM

Daftar Isi

Halaman Judul Luar.................................................................................................................... i
Daftar isi
..................................................................................................................................... ii
Kata Pengantar ......................................................................................................................... iii
Abstrak ..................................................................................................................................... iv
BAB I ........................................................................................................................................ 1
BAB II ...................................................................................................................................... 3
BAB III ..................................................................................................................................... 6
BAB IV ..................................................................................................................................... 7
Daftar Pustaka ........................................................................................................................... 8

Riwayat Hidup .......................................................................................................................... 9

















ii
Kata Pengantar

Pertama-tama saya ucapkan puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa,karena atas rahmat-Nya sehingga saya dapat menyelesaikan penulisan paper yang berjudul “Penerapan Disaster Recovery Plan Pada PT.Telkom Indonesia”.Semoga penulisan ini dapat membantu untuk menambah pengetahuan tentang akan penerapan dan pentingnya Disaster Recovery Plan pada perusahaan.
Akhir kata,mohon maaf apabila ada kesalahan penulisan,masih banyak kekurangan pada penulisan,dan diharapkannya kritik serta saran kepada saya,agar penulisan saya bisa lebih baik lagi.terima kasih.



















iii


Abstrak


Pada masa yang sudah maju ini kita telah mengetahui bahwa teknologi informasi telah membantu banyak dalam kehidupan kita sehari-hari mulai dari melakukan tugas-tugas kecil sampai dengan bisa membantu proses bisnis sebuah perusahaan.Dari teknologi informasi sendiri perusahaan bisa meningkatkan kinerjanya,meningkatkan kemampuan dalam pengambilan keputusan dan bisa menghemat beberapa pengeluaran mulai dari uang,waktu,dan pikiran.Dari teknologi informasi sendiri tentu kita tahu bahwa dari keuntungan-keuntungan yang ditawarkan,pasti ada kelemahan tersendiri juga yang ia miliki.Kelemahan teknologi informasi pun ber-variasi,mulai dari kerusakan hardware,software,sampai kesalahan atau kesengajaan manusia.

Oleh karena itu akibat dari kelemahan yang ada,maka kelemahan tersebut bisa menjadi sebuah ancaman bagi perusahaan yang menggunakan teknologi informasi sebagai media pembantu perusahaan.Tidak cukup ancaman kerusakan hardware,software,atau manusia.Kita pun bisa mendapatkan ancaman dari alam yang berupa gempa bumi,banjir,tsunami,gunung meletus,dan sebagainya yang bisa menghancurkan aset teknologi informasi perusahaan yang bisa berupa data,software penting,dan hal-hal lainnya yang sangat sensitif bagi perusahaan.

Sehingga dari ancaman alam tersebut,kita bisa melakukan tindakan pencegahan apabila terjadi bencana alam,dan tindakan tersebut adalah Disaster Recovery Plan. Disaster Recovery Plan adalah sebuah tindakan dan proses yang menjalankan beberapa rangkaian prosedur pada saat terjadi keadaan darurat,agar perusahaan bisa cepat pulih apabila terkena suatu bencana dan langsung mampu untuk tetap menjalankan fungsi-fungsi perusahaan dengan kerugian yang sedikit/minimal.


iv
BAB I
Pendahuluan

1.1  Latar Belakang
Pada jaman teknologi informasi yang telah berkembang saat sekarang ini,kita telah menjadi mudah untuk melakukan hal manual menjadi otomatis berkat sistem-sistem yang telah diberikan oleh teknologi informasi,sehingga kita bisa merasakan perbedaan hasil yang cukup signifikan mencakup dari waktu,biaya,dan keuntungan lainnya yang tidak terlihat.
Dari teknologi informasi sendiri,kita menjadi bisa menyimpan data perusahaan dengan baik dan terpadu ,tidak seperti jaman dahulu dimana saat kita masih menyimpan data dengan cara menulis dengan manual,kemudian kita menyimpannya di rak atau lemari khusus,jika ingin mencari data lama kita harus membuka semua rak atau lemari tersebut satu per-satu untuk menemukan data yang kita inginkan.Bayangkan bagaimana rasanya mencari satu data saja tetapi membutuhkan waktu lebih dari satu jam,bahkan bisa lebih dari satu jam.Oleh karena itu teknologi informasi pun memberikan kita kenyamanan dimana kita hanya perlu melakukan pencarian otomatis untuk mencari data yang kita inginkan.Kemudian rak atau lemari yang memakan tempat telah tergantikan oleh sebuah database atau server yang menyimpan semua data perusahaan kita.
Tidak dapat di-pungkiri bahwa teknologi informasi sangat memberikan dampak bagi kita,akan tetapi pernah-kah kita terpikir tentang ancaman apa,hal apa yang bisa terjadi kepada kita ketika tempat penyimpanan data berharga kita tiba-tiba rusak atau hancur oleh sebuah bencana yang tidak dapat kita hindari.
PT.Telkom Indonesia,perusahaan yang sudah tidak asing lagi bagi kita.Perusahaan yang bergerak di-bidang jaringan komunikasi ini pastinya memiliki banyak data penting berupa data pelanggan,data transaksi,dan data lainnya.Pastinya apabila data ini tiba-tiba rusak akibat hal yang tidak diinginkan,maka sudah dapat dipastikan perusahaan Telkom bisa menderita kerugian yang sangat besar.Karena itu untuk mengantisipasi terjadinya kerusakan atau kehilangan data akibat hal-hal yang tidak diinginkan,maka PT.Telkom Indonesia perlu menerapkan Disaster Recovery Plan (DRP) sebagai solusi untuk melindungi data berharga perusahaan.
1.2  Ruang lingkup
Pembahasan penerapan Disaster Recovery Plan pada PT.Telkom Indonesia akan dibatasi pada :
1.Pengertian Disaster Recovery Plan
2.Penggunaan Private Cloud Computing oleh PT.Telkom Indonesia

1
1.3  Tujuan dan Manfaat
1.3.1 Tujuan dari penulisan ini adalah :
            - Mengindentifikasi masalah apa yang kira-kira bisa dihadapi PT.Telkom
1.3.2 Manfaat dari penulisan ini adalah :
      - Menjelaskan pentingnya dan keuntungan penerapan disaster recovery plan oleh
        PT.Telkom

1.5 Metodologi Penelitian
Metode yang dilakukan untuk penelitian adalah :
-Metode Analisis
 Metode analisis yang digunakan pada penelitian ini adalah menganalisa studi kasus dimana PT.Telkom Indonesia menerapkan Private Cloud Computing sebagai implementasi Disaster Recovery Plan mereka.
1.6  Sistematik Penulisan
Untuk menjelaskan pembahasan agar menjadi lebih terpadu,maka penulisan dibagi atas :
BAB I             : Pendahuluan
Menjelaskan latar belakang,tujuan dan manfaat penulisan,metodologi penilitian,serta sistematik penulisan.

BAB II            : Landasan Teori
Menjelaskan konsep dari Disaster Recovery Plan
BAB III: Pembahasan
Menjelaskan Penggunaan Private Cloud Computing sebagai implementasi Disaster Recovery Plan oleh PT.Telkom.
BAB IV: Penutup
Berisikan kesimpulan dan saran dari pembahasan penulisan.







2
BAB II
Landasan Teori


2.1  Disaster Recovery Plan (DRP)
Berikut beberapa teori yang menyangkut kepada Disaster Recovery Plan:
2.1.1 Bencana / Disaster
Bencana adalah suatu hal yang tidak dapat diperkirakan dan bisa terjadi kapan-pun tanpa adanya peringatan,serta objek yang terkena bencana tersebut akan mengalami kerusakan yang luar biasa.
Dikutip dari “Disaster Recovery and Business Continuity Copyrigth by EC-Council” Bencana adalah seluruh kejadian mengganggu yang mendorong sistem ke dalam keadaan krisis.Hal ini mengacu ke bencana dan kehancuran akibat alam atau faktor buatan manusia seperti kebakaran, dan terorisme cyber.
Dikutip dari situs “klikdt”
Bencana adalah sebuah peristiwa atau rangkaian kejadian yang disebabkan oleh alam,manusia,ataupun keduanya dalam saat bersamaan yang akhirnya bisa menimbulkan kerusakan serius bagi lingkungan sekitar.
2.1.2 Sumber dan Tipe Bencana
Sumber dan tipe bencana yang biasa bisa kita temui :
- Disebabkan oleh alam : banjir,tsunami,gempa,gunung meletus,angin topan.
- Disebabkan oleh manusia : human error,sabotase,hacking,dan sebagainya.
- Disebabkan oleh teknologi : hardware rusak,software error,mati listrik.
2.1.3 Tekanan akibat terjadinya bencana
Beberapa tekanan akibat terjadinya bencana secara tiba-tiba :
- Kepanikan
- Shock
- Beban mental
- Kehilangan kontrol diri
2.1.4 Disaster Recovery Plan (DRP)
Arti DRP yang dikutip dari jurnal Disaster Recovery dari DRI international adalah sebuah dokumen yang menggambarkan sumber daya,tindakan,tugas,dan data yang diperlukan untuk mengatur proses recovery bisnis pada saat terjadi gangguan yang mengancam bisnis perusahaan.
Arti DRP yang dikutip dari national institute of standarts and technology,DRP adalah rencana yang sudah dipersiapkan untuk memproses seluruh data penting dalam situasi kerusakan besar dari hardware atau software atau kerusakan lain pada fasilitas.
3                                                                                          
2.1.5 Perencanaan DRP
Perencanaan DRP menurut DRI internasional adalah :
1.fase awal
2.fase persyaratan secara fungsi
3.fase desain dan pengembangan
4.fase penerapan
5.fase pengujian
6.fase perawatan
7.fase eksekusi
Perencanaan DRP menurut national institute of standarts and technology adalah :
1.pengembangan kebijakan contingency planning
2.menjalankan business impact analysis
3.menetapkan preventive control
4.mengembangkan recovery strategy
5.mengembangkan contingency plan
6.merencanakan,menguji plan,serta melakukan training
7.merencanakan maintence
2.1.6 Perancangan DRP
Perancangan DRP berdasarkan system development life cycle :
1.tahap inisiasi
menyatakan kebutuhan sistem di dalam dokumentasi
2.tahap pengembangan
membeli sistem,merancang sistem,mengembangkan sistem
3.tahap implementasi
mengetes sistem dan kemudian mengimplementasikan sistem
4.tahap pemeliharaan
memelihara,me-maintence,serta terus memonitor kerja sistem
5.tahap penyelesaian
sistem telah selesai dibuat
2.1.7 Alasan penggunaan DRP
Menurut CBK review august 1999 alasan sebuah perusahaan menggunakan DRP adalah :
1.Proaktif daripada reaktif
perusahaan akan menjadi pro-aktif untuk merencanakan penganggulangan bencana sebelum sebuah bencana terjadi
2.maintain aktifitas bisnis
apabila perusahaan tidak memiliki DRP maka ,apabila tiba-tiba terjadi bencana maka perusahaan akan mengalami kerugian dalam waktu jangka pendek ,maupun jangka panjang
3.dampak terhadap pelanggan
kehilangan citra baik di depan pelanggan


4

4.undang-undang mengharuskan
ada negara dengan undang-undang yang mengharuskan perusahaan memiliki DRP
2.1.8 Kerugian tidak memiliki DRP
Akibat yang bisa kita temui apabila tidak memiliki DRP :
1.kerugian langsung
aset perusahaan menghilang,mulai dari infrastruktur,jaringan,data,dan sebagainya.
2.kerugian tidak langsung
kerugian yang disebabkan kesalahan teknis yang bisa menghilangkan data akses,ketidak-mampuan sistem berjalan,dan sebagainya.
3.kerugian sebagai akibat
kerugian yang bisa disebabkan oleh outage ,berupa hilangnya konsumen,turunnnya nilai saham,citra perusahaan rusak,hilangnya kekuasaan di pasar.

Dampak langsung selain dari 3 kerugian diatas:
1.hilangnya laba perusahaan
2.kerugian produktivitas
3.butuh biaya ekstra untuk membangun kembali perusahaan
4.reputasi rusak secara tidak langsung














5
BAB III
Study kasus


3.1 Study Kasus
Study kasus tentang PT.Telkom Indonesia yang menggunakan Private Cloud Computing sebagai DRP dan peningkatan kinerja operasional
3.2 PT.Telkom Indonesia
PT.Telkom indonesia adalah perusahaan informasi dan komunikasi serta penyedia jasa dan jaringan telekomunikasi.
3.2.1 Permasalahan PT.Telkom Indonesia
PT.Telkom yang merupakan salah satu perusahaan besar di indonesia tentu tidak luput dari kebutuhan teknologi bagi perusahaan mereka.Ada beberapa masalah yang mereka hadapi berupa :
1.PT.Telkom
harus mengelola 200-an server sekaligus dalam kesehariannya
2.Mekanisme PT.Telkom dalam bekerja lambat
3.Pada saat tiba-tiba terjadi bencana,PT.Telkom akan sulit untuk melakukan pengambilan keputusan,karena ada 200 server yang harus diselamatkan

3.2.2 Penerapan Private Cloud Computing oleh PT.Telkom Indonesia
PT.Telkom dibantu oleh PT.Mitra Integrasi Informatika,menerapkan Private Cloud Computing sebagai berikut :
1.Menggunakan Private Cloud computing sebagai sarana back-up server bagi PT.Telkom
2.Memberikan pihak-pihak terkait dalam projek tersebut sebuah pelatihan agar mengenal cloud enviroment dan pengertian untuk mengatur  private cloud.
3.3.3 Hasil Penerapan Private Cloud Computing oleh PT.Telkom Indonesia
berikut hasil penerapan Private Cloud Computing oleh PT.Telkom:
1.PT.Telkom dengan menerapkan Private Cloud computing,tidak perlu lagi mengelola server dengan jumlah 200-an lagi,sekarang hanya cukup 8 server sudah memiliki kinerja optimal,sehingga PT.Telkom tidak perlu lagi dibebankan dengan pengawasan 200 server
2.Biaya yang dikeluarkan telkom untuk penerapan Private Cloud Computing sekaligus DRP tidak terlalu besar,karena penerapan hanya membutuhkan penambahan software
3.Karena semua data sudah di virtualisasi,maka PT.Telkom tidak perlu takut pada bencana fisik lagi(bencana alam),tetapi tetap harus berjaga pada bencana non-fisik(manusia,hacker)

6

BAB IV
Penutup


4.1 Kesimpulan
Private Cloud Computing yang diterapkan oleh PT.Telkom Indonesia untuk DRP,PT.Telkom pun bisa mendapatkan penambahan kinerja dikarenakan PT.Telkom menjadi lebih mudah untuk mengurus seluruh data miliknya didalam Private Cloud,kemudian PT.Telkom pun sudah tidak perlu takut dengan bencana alam secara langsung dikarenakan data perusahaan telah di virtualisasi sehingga data telah menjadi aman dan mudah diakses dimana pun ,kapan pun.
4.2 Saran
DRP dibutuhkan dikarenakan bisa membantu perusahaan dalam perencanaan jangka panjang,penanggulan bencana,kemudian lebih baiknya lagi apabila DRP digabungkan dengan sistem lain sehingga bisa juga meningkatkan kinerja perusahaan layaknya PT.Telkom yang tidak hanya mendapat keamanan data,akan tetapi juga mendapat penambahan kinerja.














7

Daftar Pustaka





















8

DAFTAR RIWAYAT HIDUP
Nama : Gwayne
Tempat/Tgl. Lahir : Jakarta,28  july 1993
Jenis Kelamin : laki-laki
Kewarganegaraan : Indonesia
Agama : buddha
Alamat  : Jl. Gading mas barat X blok X no X,kelapa gading,jakarta utara
No HP : 0812xxxxxx
Pendidikan :
1. SD tunas gading Lulus Tahun 2005 Berijazah
2.  SMP tunas gading Lulus Tahun 2008 Berijazah
3. SMA marie joseph  Lulus Tahun 2011 Berijazah
4. Perguruan tinggi bina nusantara tahun 2011 sampai sekarang
Pengalaman Kerja:
1.Menjadi SPB penjualan laptop asus
Demikian riwayat hidup ini saya buat dengan sebenarnya.
Jakarta, 13 April 2014
Hormat saya,

Gwayne

9


binus.ac.id


Senin, 07 April 2014

PENGENALAN TECHNOPRENUER TERHADAP SISTEM INFORMASI


PENGENALAN TECHNOPRENUER TERHADAP SISTEM INFORMASI

Technopreneur merupakan penggabungan antara pemanfaatan perkembangan Teknologi dan Konsep Entrepreneur.  Dimana entrepreneur  sendiri dapat di definisikan sebagai sesesorang yang menciptakan bisnis / usaha dengan keberanian untuk mengambil resiko guna mencapai keuntungan dan pertumbuhan dengan cara mengidentifikasi peluang yang ada. Dari penjelasan tersebut dapat disimpulkan bahwa Technopreneur adalah Entrepreneur yang mengoptimalkan berbagai potensi perkembangan teknologi yang ada  sebagai basis pengembangan usaha yang di jalankannya, atau bisa di bilang Technopreneur ini adalah Entrepreneur modern yang berbasis pada teknologi dalam menjalankan usahanya.

Contoh Perusahaan yang berbasis Technopreneur
1.   Microsoft
2.   Google
3.   Facebook
4.   Twitter
5.   Dll

Technopreneur selalu berusaha keras untuk memanfaatkan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi terkini(utilizing lates technology) untuk berinovasi guna meningkatkan daya saing. Kondisi itu, kita cermati misalnya pada beberapa technopreneur yang mengembangkan sektor jasa dengan memanfaatkan secara cerdas beragam kemajuan teknologi informasi dan telekomunikasi. Untuk engembangkan technopreneur berwawasan masa depan, perlu pemahaman tentang beberapa trend dunia usaha masa depan, yaitu;

Pertama, kegiatan bisnis berbasiskan inovasi teknologi. Tujuannya menjadikan para technopreneur dapat mengatasi tantangan masa depan, khususnya tuntutan daya saing ekonomi yang makin ditentukan dari kesanggupan pemanfaatan sumber daya alam yang mengedapankan penguasaan ilmu pengetehuan dan teknologi.

Kedua, complementary attitude, yaitu mengedepankan pola sikap saling melengkapi dalam menyikapi persaingan di ranah bisnis dan dunia usaha akan menjadikan para technopreneur dapat memanfaatkan secara cerdas perluasan sinergi berusaha yang makin konstruktif guna memenuhi tuntuan kebutuhan pasar yang makin luas, makin kompleks dan makin dinamis.

Ketiga, mengedepankan inovasi teknologi. Bagi para technopreneur yang umumnya memiliki mentalitas riset, tuntutan konsumen atas produk yang ramah lingkungan dan tidak mengganggu kesehatan, serta tuntutan lainnya, justeru menjadi pencetus untuk terus berinovasi.

Keempat, pemerintah sebagai fasilitator dan katalisator. Kecenderungan masa depan, yaitu sikap pemerintah yang umumnya cenderung berperan sebagai fasilitator di berbagai kegiatan ekonomi, juga merupakan insentif para technopreneur.


Konsep Pengembangan Inovasi Bagi Para Technopreneur

Ada tiga pilar inovasi teknologi sebagai penentu kinerja sektor riil dan perekonomian masa depan bagi para technopreneur, yaitu revolusi kuantum, revolusi komputasi dan revolusi bio molekuler.

1. Revolusi kuantum (Quantum Revolution)
Pencetusnya adalah inovasi teknologi material komposit, teknologi serat optik, teknologi polimer, teknologi bahan sintetik (new alloys). Dampak pada sektor riil dari revolusi kuantum adalah mengubah wajah industri manufaktur, utamanya industri otomotif, industri kedirgantaraan, industri elektronika, industri transportasi dan pertambangan.

2. Revolusi Komputassi
Pencetusnya adalah inovasi pada teknologi intelegensia tiruan (artificial intelligencial),mikrokomputer, computer aided design, computer aided manufacturing, computer aided engineering,teknologi robotika, teknologi laser dan penginderaan jauh. Dampaknya pada sektor riil, yaitu mengubah wujud seluruh jenis industri manufaktur dan memperluas diversifikasi industri jasa, industri pertahanan/ militer dan industri telekomunikasi.

3. Revolusi Bio Molekular
Pencetusnya adalah inovasi pada teknologi rekayasa genetika dan teknologi kultur jaringan. Dampaknya pada sektor riil adalah mengubah total cara dan paradigma pertanian serta seluruh unsur agribisnis, berdampak besar pada industri farmasi dan kesehatan.
Pada akhirnya, pengembangan technopreneur tergantung dari kemauan dan semangat untuk terus maju. Bagi para wirausaha muda, generasi muda, peluang untuk menjadi technopreneur sangat terbuka dan menjadi keharusan untuk bisa bersaing di masa depan. Namun jika tidak ada semangat dan daya juang, maka akan menjadi sebuah penghalang besar proses kemajuan bangsa. Mari kita perkuat technopreneur.




Pemerintah dukung adanya Technopreneur

Banyak yang belum tau bahwa pemerintah juga turut mendukung pengembangan Technopreneurship atau bisnis berbasis teknologi, itu karena Technopreneur di Indonesia bisa menjadi tulang punggung pembangunan nasional serta mendukung kemandirian bangsa, semua itu di katakan oleh menteri Koordinator perekonomian Hatta Rajasa dalam pidatonya. Menurut beliau, perguruan tinggi harusnya juga memiliki tugas untuk mencetak orang-orang yang tidak hanya sekedar mencari lapangan kerja, tapi juga menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi sehingga mereka mampu menjadi seorang Technopreneur dan mampu menciptakan sebuah lapangan kerja baru bagi para calon pegawainya, sehingga diharapkan dapat membawa perubahan kondisi bangsa ke arah yang lebih baik dalam berbagai bidang.

 
Perlu kita tau bahwa di tahun 2015 ASEAN akan menerapkan Economic Community. Ini akan menjadi awal dimulainya pasar bebas regional ASEAN, sehingga peredaran uang dan barang akan sangat berpusat pada teknologi, karena pemasaran dilakukan antar begara-negara ASEAN, maka dibutuhkan banyak Technopreneur yang mampu memanfaatkan teknologi secara tepat guna meningkatkan daya saing bisnisnya menghadapi pesaing-pesaing lain dari kawasan ASEAN pada tahun 2015 nanti.  Karena sebenarnya Indonesia memiliki potensi untuk menghadapi ASEAN Economic Community ini, yakni berupa sumber daya manusia yang sangat mencukupi untuk bersaing, dengan jumlah penduduk Indonesia hingga 39% dari total penduduk ASEAN maka indonesia di katakan mampu memberikan pengaruh besar bagi ASEAN Economy Community . Tidak hanya itu, Indonesia juga memiliki kekayaan sumber daya alam yang lebih dari negara-negara ASEAN yang lain, sehingga Indonesia memiliki Potensi besar dalam ASEAN Economy Community ini. Karena itulah, begitu besar harapan pemerintah kepada para generasi mudaIndonesia sebagai agen of change (agen pembawa perubahan) dengan menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, untuk mampu mengembangkan potensi Indonesia yang telah ada tersebut sebagai seorang Technopreneur guna mampu bersaing dengan negara ASEAN yang lain, sehingga Indonesia mampu menjadi pemain Utama, bukan hanya sekedar partisipan dalam ASEAN Economy Community ini.  Itulah mengapa Technopreneur juga turut berperan sebagai pendukung kemandirian bangsa guna melakukan pembangunan nasional dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat dengan  meningkatkan daya saing bangsa Indonesia di kancah Internasional.